Ambon ; Kota Ramai dan Jiwa Sepi

 

Aku terpaku menyaksikan jalanan ramai, selepas merasa suntuk seharian berjamur di dalam kamar kost, berkutat dengan leptop dan kertas. Mencoba mencari udara segar, menuruni tangga kemudian menyaksikan lalu lalang orang-orang yang penuh harap dalam hati, beban diatas pundak, dan kepala yang isinya di penuhi ekspektasi. 


Sore itu di temani dengan lembayung senja yang mewarnai indah langit kota, tanah basah sisa-sisa hujan beberapa menit lalu memantulkan siluetnya. Menjadikan pas mata ini menangkap objek paling indah yang pernah ada itu. Berdiri, terpaku dalam sunyi kadang berucap.


“Kota ini ramai, seramai isi kepala. Seramai terminal batu merah, Seramai bundaran poka, Seramai Pasar Mardika, Seramai Jembatan merah putih, riuh, riweh dan penuh kalimat”.


Tapi aku? Hanya terpaut sendiri yang ku peluk semakin lama. Berkawan sendiri yang ku sebut paling berarti. Sejak dahulu, sejak mata baru terbuka, sejak kaki baru pertama merasakan pipi bumi, sejak hari itu hingga detik ini". 


Lalu lalang orang-orang itu membuatku terdiam sejenak. 


"Apa mereka juga sama sepertiku?", membatin sembari menatap orang-orang itu.


"Mereka sama sepertiku, sendiri. Tapi entah sepi itu membunuh mereka ataukah tidak", aku sendiri mendengar jawab ini muncul dari balik kepalaku


Lihat saja lelaki berbaju pegawai itu, nampak letih. Mengendarai motor vario hitam seperti kuda baginya, dan seragamnya tak ubah zirah perang kesatria yang menambah gagah tampilannya. Luarnya keren, hebat, mengagumkan. Tapi hatinya? 


Menilik lebih jauh, semisal ia berkeluarga, ia pasti terbebani dengan tunggakan sekolah milik anakanya, belanja bulanan istrinya, makan minum sehari, bensin, kebutuhan rumah, motor kreditnya, dan beban lain yang terus menumpuk di pundaknya. Semisal tidak, ia mungkin harus memikirkan bagaiaman membantu biaya sekolah adiknya, membantu memberi sebagian gajinya untuk biaya rumah, menabung untuk persiapan nikah, menghibur masa lajangnya, membaginya dengan kakek, nenek, sepupu, ponakan dan keluarga yang membutuhkan. Belum lagi beban kerja di kantor, deadline meeting, jobdesk dan sejenisnya. pada akhirnya ia merasa sendirian, menderita menanggung semua beban itu.


Lihat juga dia, seorang lelaki yang sedang mendorong gerobak pentolan miliknya. Keringat sebesar biji jagung bertumbuh di dahinya, baju apek dan lusuh sebab keringat menggambarkan betapa kerasnya hidup memberinya perjalanan. 


Melihat lebih jauh, jika ia sudah berkeluarga, hari-hari akan di pikirkan untuk pendapatan yang ia punya apakah mencukupi untuk makan sehari-hari, untuk memutar roda penjualan, memisahkan untung rugi, memikirkan pengeluaran lain seperti minyak tanah, adonan bakso, kuah, bumbu dan lain sebagainya. Belum lagi memberinya kepada istri, anak, biaya sekolah, pinjakan dan lain-lain. 


Jika masih bujang, pun sama. Semuanya sama. Seperti si pria berbaju dinas yang gagah itu.


Ada banyak yang sejenis dalam pengelihatanku, hanya beda pada baju, kendaraan, tampilan dan pekerjaan.


Ramai sekali kota ini, teramat ramai.


Aku masih terdiam di bibir jalan, senja yang semakin memudar, membuat langit menuju malam, menjadi temaram. Hingga pada satu titik dalam keramaian yang di balut jiwa sepi aku temukan satu makna. Tidak di temukan dengan cuma-cuma, tapi ku coba ramu dari mata yang menyaksikan, pikiran yang dibentuk dan hati yang coba di rapihkan.


Bahwa "sepi dalam diriku, adalah sepi yang juga di rasakan oleh orang-orang di kota ini. sepi yang menjadi kawanku adalah sepi yang juga berkawan dengan orang-orang disini. Mereka teramat sepi, namun hidup di atas keramaian. Entah untuk menghidupi keluarganya, menenangkan ibu bapaknya, menyenangkan kawan-kawannya dan untuk membohongi dirinya. Mereka hidup dalam sepi, berkawan sunyi tapi tumbuh di tengah ramai. Mereka sepi tapi bingung mengatakan itu sepi, mereka sunyi tapi sulit mengakui".


Aku menjeda semua kalimat yang terputar di kepalaku. Sorot lampu kendaraan menyadarkan lamunanku. Terlalu lama berdiri di bahu jalan, terlalu lama juga mengartikan semua hal yang tersorot olehku. Hingga terperanjat, dan terpaksa harus berlalu meninggalkan rami kota ini. Menyapa sepiku yang ku tinggalkan di balik pintu kamar kost-ku.


Pada akhirnya, Ambon adalah kota paling diam namun terselimut ramai, hingga orang-orang berwajah sepi dan bertubuh sunyi bersembunyi di baliknya. Mencoba berkamuflase agar di terima, di peluk, di sukai, di sorakki, di gemari, di cium, di manja, tapi lupa untuk di pahami. Bahwa di tengah kota ramai ini, di tengah kelompok manusia yang riuh ini, hidup jiwa sepi yang berkawan sunyi, yang hanya ingin di mengerti lalu di usap keplanya, sembari berkata "kamu tidak sendiri".

Komentar

Postingan Populer