Kabut Pulang
Kadang, pulang bukan sekadar soal tempat.
Bukan sekadar soal siapa yang menunggu,
tapi tentang apakah kita sudah kembali pada diri sendiri yang lama hilang.
Di dunia yang terus bergerak dan menuntut,
berapa banyak dari kita yang lupa caranya pulang?
Tulisan ini bukan hanya tentang seorang lelaki yang ingin kembali ke rumah, tapi tentang kita semua yang kadang tersesat di tengah hidup, dan butuh keberanian untuk kembali, bukan ke alamat, tapi ke hati yang pernah kita tinggalkan.
Tentang seorang lelaki yang berjalan sendirian di jalan yang dulu disebutnya “pulang”. Langkahnya pelan, bukan karena lelah, tapi karena setiap inci tanah di hadapannya terbungkus kabut abu-abu, tebal, dan asing seperti masa lalu yang tak lagi bisa dikenali.
Ia merindukan rumah.
Bukan sekadar atap dan dinding, bukan meja makan yang dulu ramai, atau suara tawa yang membanjiri sore-sore kecilnya.
Tapi sesuatu yang lebih dalam: perasaan diterima, dipahami, dan diizinkan diam tanpa harus menjelaskan siapa diri.
Namun jalan itu tak lagi jelas. Ia mengira akan mudah kembali, bahwa pulang hanyalah tentang arah. Ternyata tidak. Bahkan kompasnya pun kini gemetar, seperti tak lagi mengenal utara.
Ia terus berjalan, melewati rerimbunan ingatan
yang gugur seperti daun tua. Ia mendengar suara ibunya dalam angin, memanggilnya untuk makan malam yang tak pernah datang lagi. Ia melihat bayangan ayahnya di sela kabut, diam, tegas, tapi telah lama pergi. Dan hatinya menunduk pada kenangan yang tak tahu bagaimana caranya kembali.
Ia menyusuri lorong waktu, dan bertanya pada dirinya sendiri:
“Apakah pulang selalu berarti tempat?”
“Apakah yang kucari benar-benar ada di sana,
atau justru telah lama hilang dariku?”
Hingga di sebuah tikungan sunyi, di bawah pohon yang daun-daunnya menangis pelan, ia berhenti. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencari cahaya di luar sana, tapi menyulut percikan kecil dalam dadanya sendiri.
Ia mulai mengerti.
Bahwa selama ini, ia tidak benar-benar tersesat, ia hanya terlalu jauh dari dirinya sendiri. Terlalu sibuk membuktikan, menjelajah, melarikan diri dari hal-hal yang pernah menyakitinya, hingga lupa caranya menyapa luka dengan pelukan.
Pulang, pikirnya, bukan hanya tentang kembali ke tempat, tapi juga kembali menjadi. Menjadi manusia yang utuh, meski pernah retak. Menjadi diri sendiri yang tak ditentukan oleh siapa pun, selain oleh kejujuran terdalam yang tinggal dalam dada.
Kabut itu masih ada, tapi kini tak lagi menakutkan. Ia tahu, ia akan tetap jalan. Dengan langkah yang mungkin lambat, tapi pasti. Karena kini, ia tahu ke mana harus pulang: bukan ke rumah yang ia tinggalkan, melainkan ke hati yang telah lama ia abaikan.
Sebab pulang bukan hanya tentang sampai,
tapi juga tentang kembali mengenali siapa kita
meski kabut masih menari di sepanjang jalan.



Komentar
Posting Komentar