Bunga Langit



Lelaki, Pantai, dan Sebuah Panggilan Sunyi


Senja menggantung lelah di cakrawala, angin laut menyusup masuk ke dalam pikiranku yang kusut.


Aku duduk sendiri di tepi dermaga, ditemani deru ombak dan suara-suara dalam kepala yang sejak tadi tak berhenti bertanya:


"Apa yang sebenarnya kucari?"


Langit malam mulai menetes pelan, birunya berubah menjadi kelam dan aku merasa—sekali lagi—dilupakan. Tak ada yang menunggu di rumah, tak ada nama yang kupanggil pulang.


Aku menatap langit.

Dan tiba-tiba, dalam sunyi yang menggema, sebuah suara lirih bergetar dari dalam diriku sendiri.


“Aku dilahirkan dari rahim bumi— sebutir benih kecil yang tak bernama, terkubur di antara serpih hujan dan diam debu, dibisikkan doa oleh akar-akar tua yang tak pernah lelah menjaga…”


Aku mengerjap.

Kata-kata itu seperti datang dari tempat yang jauh, tapi juga sangat dekat—seperti bagian dari diriku yang lama hilang.


Dan aku sadar, aku bukan hanya lelaki yang duduk di pantai malam ini, aku juga sesuatu yang sedang tumbuh, meski dunia tak melihat.


Aku tumbuh dalam luka yang kupelajari sebagai cinta,

dalam gelap yang kupahami sebagai pelukan, dan cahaya yang tak selalu datang sebagai terang.


Aku mulai percaya, mungkin aku bukan untuk tanah ini.


Ada sesuatu di atas sana—langit yang biru tak selesai,

dan malam yang tak pernah kehabisan bintang untuk ditatap. 


Tapi ada suara… halus seperti napas semesta,

yang memanggilku untuk tak hanya mekar di tanah,

melainkan membubung—menjadi bunga langit.”


Dan aku tahu sekarang, kesepian ku bukan kutukan.

Itu adalah jalan menuju atas.


Aku bukan gagal. Aku bukan hilang.

Aku sedang tumbuh… diam-diam.


Bukan untuk jadi megah, bukan pula untuk dikenal angkasa, tapi untuk menebarkan harum bagi mereka yang pernah merasa hampa, seperti aku.


Aku menutup mata, dan membayangkan diriku bukan lagi lelaki biasa, tapi kelopak yang perlahan mekar di angkasa.


Bukan dari tanah, tapi dari luka yang belajar terbang.


“Aku ingin suatu hari, seseorang menatap langit dan berkata: ‘Ada bunga di sana, bukan dari bumi, tapi ia pernah jadi luka yang belajar terbang.’”


Dan jika malam ini langit terasa sedikit lebih hangat, itu mungkin karena aku telah memaafkan diriku sendiri.


Jika galaksi diam sejenak, itu bukan karena aku terang—tapi karena aku tetap mekar meski berasal dari tanah yang tak pernah dipilih siapa-siapa.




Komentar

Postingan Populer